Bukit
Siapa yang berada di atas sana? Sebagian masih bertanya meski tidak pernah mendapat jawaban. Mereka mengunjungi bukit itu, namun tidak menemukan siapa pun. Sebagian lainnya menetap di bawah bukit. Yang di bawah mengeluhkan, "bagaimana menemukan sesuatu yang kamu tidak tau apa yang dicari?" Yang di atas mengeluhkan, "bagaimana menemukan sesuatu yang kamu tidak coba mencari?" Yang di bawah sibuk mendengar All in the Mind dari Oasis. "Because the life I think I'm trying to find is probably all in the mind." Mereka mendapat ketenangan dari dalam. Yang di atas sibuk mendengar Live Forever dari Oasis, "This is not the time to cry, now is time to find out why." Mereka mendapat ketenangan dari luar.
Aku teringat film Save Private Ryan, dua negara berperang dan berdoa pada Tuhan utk kemenangan, doa siapa yang akan dikabulkan? Paradoks terjadi hampir setiap saat. Bahkan di antara rakyat dan pemerintah. Pertentangan terjadi umumnya karena perbedaan paham. Bagaimana jika yang atas mencoba untuk melihat ke bawah lebih dalam dan yang bawah mencoba untuk melihat ke atas lebih dalam? Bagaimana jika rakyat mencoba melihat pemerintah lebih dalam dan pemerintah mencoba melihat rakyat lebih dalam? Dua hal yang selalu dipertentangan cenderung destruktif, bukan konstruktif. Aku ingat pelajaran musyawarah untuk mufakat di Sekolah Dasar, tapi hal dasar yang malah mungkin sebagian orang lupakan.
Merasa benar adalah hal yang berbahaya sejujurnya, setiap orang baiknya punya stand masing-masing, tapi percayalah tidak ada yang pernah sepenuhnya benar. Ilmu eksak yg dianggap solid pun berpeluang digantikan dengan ilmu yang lebih bisa berlaku secara lebih umum. Jadi bagaimana yang atas dan bawah bisa hidup tenang? Mungkin salah satu caranya adalah untuk coba lebih memahami dan menghargai dulu. Yang atas dan yang bawah sudah pasti berbeda, tapi bukan berarti tidak memiliki kesamaan. Satukan saja visi yang lebih bisa berlaku secara lebih umum. Seperti ilmu eksak tadi. Sungguh, ilmu dapat menyelamatkan manusia di dunia yang penuh ketidakpastian ini. Minadzulumati illa nur. Ayat Qur'an yang menginspirasi Kartini menulis habis gelap terbitlah terang.
Kata Cak Nun, bergurulah langsung ke Allah melalui perantara siapa pun yang kebetulan dia akhirnya belajar dari Sabrang juga, anaknya. Pertama tau Sabrang vokalis Letto, aku cukup terkejut. Keren. Kagum. Ya, tapi sewajarnya aja. Sekeren-kerennya Sabrang ada yang lebih keren. Bapaknya. Sekeren-keren bapaknya ada yang lebih keren lagi. Tapi jangan juga ngebandingin. Untuk beberapa keadaan, perbandingan tidak akan pernah membawa ke manapun. Buat visi, jalanin. Sederhana tapi sulit dijalanin. Seperti hal dasar tadi, musyawarah untuk mufakat. Ah, dunia memang suka membutakan kita. Ke arah mana mata ini mesti diarahkan? Bagaimana kita tau kita sudah memakai kacamata yang paling sesuai atau belum?