Formasi
Sejak kuliah saya terpikir tentang gimana cara manusia belajar lebih efektif dan efisien. Menurut saya ada 3 hal: kompresi, hirarkis, dan visualisasi. Artinya informasi harus dalam bentuk rangkaian kalimat efektif tanpa noise, dirunut secara bertahap dari yang paling dasar ke yg kompleks, dan disusun sedemikian rupa supaya otak bisa capture dan recall kembali dengan mudah.
Seiring waktu berlalu, banyak informasi tambahan yg saya dapatkan seperti neuroplasticity, muscle memory, spaced repetition, atau cognitive load theory yg semuanya berujung ke mastery. Penguasaan suatu kemampuan hingga menjadi ahli. Di buku karya Malcolm Gladwell berjudul Outliers atau buku karya Robert Greene berjudul Mastery, ada beberapa irisan menarik mengenai ini. Gladwell bilang aturan 10 ribu jam, kita harus luangin waktu di hal yg kita ingin kuasai selama itu untuk menjadi menguasai suatu bidang, tapi Greene sendiri sebelum menjadi penulis banyak mencoba profesi lain. Mungkin kamu pernah dengar faktor genetik adalah komponen kuat yg nentuin kita akan cenderung mudah menguasai hal apa, kita bisa saja cek dengan tes DNA dengan biaya kurang lebih 5 juta rupiah. Namun untuk tes dasar dan cepat, sebetulnya kamu bisa cek dengan ChatGPT, buat list pertanyaan standar untuk tes kepribadian dan minta kecenderungan kita ke arah mana. Selain berkontemplasi sendiri, tes kepribadian entah dari ChatGPT atau MBTI menurut saya adalah salah satu cara kita untuk lebih mengenal diri kita sendiri. Setelah kita tau diri kita secara keseluruhan dan mendalam, seharusnya kita tau arah yg ingin dituju dan informasi apa yg perlu diperdalam lebih lanjut. Inilah yang kemudian saya terpikir lebih lanjut, sepertinya hal ini seharusnya dilakukan sejak dulu. Sejak kecil. Jika sejak kecil kita tau sudah diajarkan untuk mempertanyakan sesuatu termasuk untuk apa kita berada di dunia ini dan bagaimana kita menjalaninya secara menyeluruh. Saya rasa kita bisa mengurangi noise lebih banyak dan berfokus untuk mengumpulkan pengetahuan serta informasi yg paling relevan dengan yang akan lebih berdampak di kehidupan kita.
Sejak memikirkan ini, jika gunain ChatGPT saya sesekali menanyakan tentang high impact information di bidang saya, high impact information secara umum, atau the highest ROI information. Saya ngulik tentang informasi tersebut, saya gunain web search untuk cari di internet informasi resmi terkait hal tersebut. Berangkat dengan mental model seperti ini, kamu pun bisa mencoba sendiri misal berdasar latar belakang kamu buku apa yg paling memiliki highest ROI information yang sangat fundamental yang dari buku ini kamu bisa melihat banyak hal lebih jelas. Beberapa buku yang direkomendasikan untuk saya adalah The Book of Why, Thinking in System, dan The Structure of Scientific Revolutions. Saya sedang mencoba memahami causal inference, membedakan korelasi dan kausalitas, serta mendalami inferensial itu sendiri. Karena di dunia AI, beberapa waktu lalu sempat mengembangkan dan melatih AI sendiri bernama Nanostrive ada bagian inference yang mengembalikan saya ke pelajaran statistik inference. Kamu bisa cek framework berpikir dan Nanostrive di github saya.
Dengan menggali informasi yang kita minati, itu secara ga langsung membantu saya menjawab pertanyaan eksistensi di pandangan post nihilist saya sebelumnya, hidup memang tidak memiliki arti namun karena hidup tidak memiliki arti kita sebagai manusia bebas memberi arti pada hidup itu sendiri, dan hal terbaik untuk memberikan arti ke hidup ini adalah hidup berarti bersama orang-orang di sekitar kita. Memberikan hal yang baik selama kita masih hidup di dunia.