← Kembali
23 Mei 2023

Survive

Tidak mudah untuk memahami hidup karena manusia terus berubah. Upaya sains memahami alam semesta pun kerap berubah karena selalu ada model lebih baik yang bisa menjelaskan suatu keadaan lebih baik. Pemahaman manusia perlu menyesuaikan terhadap keadaan saat ini berdasar masa lalu dan mempertimbangkan masa depan. Tujuan utamanya bertahan hidup dan mempertahankan hidup orang lain. Bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Menyerap sebanyak mungkin nilai kehidupan untuk dipahami, dikembangkan, hingga bisa dibagikan ke orang lain. Dari dulu manusia melakukan estafet ini.

Siapa pun akan menjadi apa pun jika ia melakukan sesuatu kapan pun. Saya percaya hal tersebut. Namun kecepatan seseorang untuk mencapai tujuan itu beragam. Tergantung tingkat kemampuan yang dimiliki dan tingkat kesulitan yang dihadapi. Namun, tujuan mampu membuat seseorang tetap mencoba meski banyak kendala yang ditemui. Merekonstruksi keadaan menjadi variabel, mensimulasikan, dan menjalankan simulasinya pun bukan hal yang mudah. Di suatu kesempatan, Prof Rhenald Kasali lebih memilih menjadi orang yang reasonable dibanding hanya mengandalkan logika. Tiga bidang utama seperti logika, etika, dan estetika pernah disampaikan Cak Nun bahwa kebenaran itu urusan dapur. Mengolahnya menjadi sesuatu yang bisa diterima dengan etis dan estetis bisa membuatnya lebih diterima. Namun, dengan mengubah kata laki-laki menjadi manusia, seperti pertanyaan di lagu Bob Dylan berjudul Blowin in the Wind, perlu berapa jauh manusia berjalan hingga ia dikatakan manusia?

Sebagian manusia berangkat dari ketiadaan hingga berusaha mencari makna dalam ketiadaan tersebut. Menjalankan peran sebaik mungkin yang mungkin bisa dilakukan. Memang ada laju angin yang tidak bisa ditahan badan, tapi saya rasa di dalam keadaan terburuk manusia memiliki kesempatan untuk lebih mengenal dirinya sendiri. Bahkan hal tersebut disebutkan dalam rangka mengenal pencipta. Manusia belajar dari kesalahan dan memperbaikinya untuk menjadi manusia yang lebih baik. Konsep yang mirip seperti Machine Learning dalam Ilmu Komputer.

Pengetahuan semakin berkembang sementara angka harapan hidup manusia berkisar 72.5 tahun. Membangun sistem belajar yang efektif baik dari segi konten atau metode perlu diperhatikan. Pemicu awal saya memikirkan hal ini adalah ketika pertama kali selesai menonton series Sillicon Valley, cerita tentang sekolompok anak muda yang mengembangkan start-up dengan algoritma kompresi data yang sangat efisien yang dapat diterapkan pada lagu, video, hingga internet. Saya terpikir bahwa menyampaikan sesuatu secara on-point sangat bermanfaat bagi perkembangan peradaban manusia – melihat bagaimana dalam sejarah manusia kelompok yang dapat bekerja sama melalui komunikasi yang baik dapat lebih bertahan. Membuat penjelasan dalam kalimat yang padat tanpa mengurangi maknanya. Berangkat dari hal tersebut, selain kompresi data, saya terpikir 2 hal lain untuk dapat memudahkan memahami sesuatu adalah bentuk visual dan hirarki – seperti dalam software Obsidian the Second Brain. Singkat cerita, hingga belakangan AI pesat berkembang muncul database vector seperti Pinecone yang dapat diintegrasikan dengan Large Language Model (Langchain dan OpenAI). David Shappiro dalam bukunya Natural Language Cognitive Architecture berusaha menjelaskan kemungkinan mengimplementasikan model kognitif manusia pada komputer dengan melakukan pendekatan neurosains dan psikologi.

Pada akhirnya, sebelum mencoba memahami hidup, hal yang tidak kalah penting ialah mencoba memahami diri sendiri terlebih dulu. Memahami orang di sekitar. Memahami kenapa kita ada di sini. Memahami kenapa kita ada dalam keadaan ini. Memahami kenapa kita bertemu. Memahami baik buruk senang sedih dan segala halnya. Hingga akhirnya kita perlu sesekali mengosongkan semuanya sejenak. Untuk kemudian berusaha menjadi manusia yang lebih baik lagi. Kendala akan selalu ada. Masalah akan selalu muncul. Namun setidaknya, hingga di ujung usia 27 tahun ini, saya bisa memulai usia 28 tahun Bersama keluarga dan rekan-rekan hebat di mana pun mereka berada. Untuknya, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada semua orang yang saya temui dan/atau saya kenali. Semoga waktu membawa kita kepada perubahan yang lebih baik. Aamiin.