← Pahami

Bab 2

Harga

Apa yang terjadi ketika bertindak sebelum memahami

Antara tahun 2019 dan 2022, sebuah gelombang besar menyapu ekosistem startup di Indonesia. Puluhan perusahaan rintisan berlomba-lomba mendigitalisasi warung — jutaan toko kelontong kecil yang tersebar di gang-gang sempit seluruh nusantara.

Premisnya terdengar tak terbantahkan: Indonesia punya lebih dari 60 juta UMKM. Sebagian besar masih mencatat transaksi di buku tulis atau tidak mencatat sama sekali. Digitalisasi adalah langkah yang terlihat begitu jelas, begitu inevitable, bahwa investor-investor global bersedia mempertaruhkan ratusan juta dolar secara kolektif.

Tapi satu per satu, startup-startup ini goyah. Beberapa berganti arah berkali-kali — dari pencatatan keuangan ke e-commerce, dari e-commerce ke social commerce, dari social commerce ke dropshipping. Beberapa membakar puluhan juta dolar tapi hanya menghasilkan pendapatan yang nyaris nol. Beberapa tutup sepenuhnya setelah gagal menemukan model bisnis yang berkelanjutan.

Secara kolektif, ratusan juta dolar menguap. Ribuan orang kehilangan pekerjaan. Dan warung-warung yang hendak "diselamatkan"? Kebanyakan masih berjalan seperti biasa — dengan buku tulis yang sama, kalkulator yang sama, dan sistem hutang piutang berbasis kepercayaan yang sudah bekerja selama puluhan tahun.

Gelombang ini bukan anomali. Ini adalah pola. Dan pola ini muncul di mana-mana — di bisnis, di kesehatan, di keuangan pribadi, bahkan di naik turunnya peradaban.


Harga Bisnis

CB Insights, lembaga riset yang melacak ribuan startup dari lahir sampai mati, pernah melakukan semacam otopsi massal. Mereka membedah lebih dari 100 startup yang gagal dan menanyakan pertanyaan sederhana: kenapa?

Jawaban nomor satu, muncul di 42% dari kasus yang dianalisis,1 bukan kehabisan uang. Bukan kalah bersaing. Bukan masalah tim yang tidak kompak.

Jawabannya: tidak ada kebutuhan pasar.

Empat puluh dua persen startup mati karena membangun sesuatu yang tidak dibutuhkan siapa pun. Ada solusi, tapi tidak ada masalah. Ada teknologi, tapi tidak ada pemahaman. Ada pitch deck 30 halaman tentang "total addressable market" tapi tidak ada jawaban untuk pertanyaan paling dasar: apakah orang sungguh-sungguh membutuhkan ini?

Ini bukan kegagalan eksekusi. Ini adalah kegagalan pemahaman — kegagalan untuk memahami dunia yang hendak dilayani sebelum mulai membangun.

Gelombang yang Menguap

Gelombang digitalisasi warung di Indonesia adalah studi kasus sempurna dari statistik CB Insights yang menjadi kenyataan.

Dari luar, masalahnya terlihat jelas. Jutaan warung mencatat keuangan secara manual — di buku tulis yang kumal, di potongan kertas yang ditempel di dinding. Rantai pasok mereka berlapis-lapis — dari produsen ke distributor nasional, ke sub-distributor, ke agen, baru sampai ke warung. Setiap lapisan mengambil margin. Secara teori, digitalisasi bisa membuat semuanya lebih efisien.

Secara teori.

Tapi ada satu pertanyaan yang tidak dijawab dengan cukup dalam sebelum ratusan juta dolar dikeluarkan: apakah pemilik warung benar-benar menganggap ini masalah yang perlu diselesaikan?

Bayangkan seorang pemilik warung kelontong yang sudah berjualan 15 tahun. Dia tahu persis berapa harga setiap barang, berapa marginnya, siapa yang masih ngutang, dan kapan mereka biasanya bayar. Sistemnya tidak cantik. Tidak scalable. Tapi — dan ini yang krusial — sistemnya bekerja untuk kebutuhannya.

Ketika seseorang datang menawarkan aplikasi pencatatan digital, reaksinya bukan "Wah, akhirnya ada solusi!" Reaksinya lebih mendekati, "Harus download apa? Butuh kuota internet? Harus ketik-ketik setiap ada yang beli sebungkus Indomie?" Aplikasi itu bukan solusi — itu tambahan pekerjaan untuk masalah yang tidak dirasakan.

Hal yang sama terjadi pada upaya memotong rantai distribusi. Rantai pasok warung memang berlapis, tapi setiap lapisan ada karena alasan. Distributor tradisional memberikan kredit berbasis kepercayaan personal. Mereka mengantarkan barang ke gang-gang sempit dengan motor dan gerobak. Mereka tahu kebiasaan pembelian setiap warung karena hubungan yang dibangun bertahun-tahun.

Startup-startup ini melihat inefisiensi di mana sebenarnya ada adaptasi. Melihat masalah di mana sebenarnya ada solusi yang sudah bekerja — imperfek, tapi fungsional. Ada perbedaan yang sangat besar antara melihat masalah dari luar dan merasakan masalah dari dalam.

Theranos — $9 Miliar dan Ilusi yang Berlapis

Jika gelombang warung adalah contoh ketidakpahaman terhadap pasar, kisah Theranos adalah contoh ketidakpahaman yang jauh lebih dalam — dan konsekuensinya jauh lebih mengerikan, karena taruhannya bukan uang, tapi nyawa manusia.

Pada tahun 2003, seorang mahasiswi Stanford berusia 19 tahun bernama Elizabeth Holmes memutuskan keluar dari kampus untuk mendirikan perusahaan teknologi medis. Klaimnya revolusioner: sebuah perangkat kecil bernama "Edison" yang bisa menjalankan lebih dari 240 jenis tes darah2 dari satu tetes darah di ujung jari. Lebih cepat, lebih murah, lebih tidak menyakitkan dari tes darah konvensional.

Investor terpikat. Rupert Murdoch, Larry Ellison, keluarga DeVos — nama-nama besar menulis cek. Valuasi Theranos mencapai $9 miliar. Forbes menyebut Holmes sebagai miliarder wanita termuda yang membangun kekayaannya sendiri. Walgreens menginvestasikan $140 juta dan memasang perangkat Edison di lebih dari 40 gerai.

Tapi ada satu masalah fundamental: teknologinya tidak bekerja.

Perangkat Edison tidak bisa menjalankan sebagian besar dari 200 tes yang dijanjikan secara andal. Hasil yang diproduksi sering tidak akurat. Secara diam-diam, Theranos menjalankan banyak tes menggunakan mesin konvensional buatan Siemens — mesin biasa yang bisa dibeli rumah sakit mana pun — sambil mengklaim bahwa semua tes dilakukan oleh teknologi revolusioner mereka sendiri.

Dan pasien nyata menderita. Seorang perempuan di Arizona menerima hasil positif palsu untuk HIV — bayangkan menerima diagnosis itu dan hidup dalam ketakutan karena alat yang hasilnya tidak bisa dipercaya. Pasien lain mendapat perubahan dosis obat berdasarkan hasil tes yang keliru, yang menyebabkan serangan jantung.

Kegagalan Theranos adalah kegagalan pemahaman yang berlapis-lapis.

Lapis pertama: pendiri yang tidak memahami batas ilmunya. Holmes keluar dari Stanford sebelum menyelesaikan gelar sarjana di bidang teknik kimia. Ambisinya melampaui pemahamannya tentang apa yang secara ilmiah bisa dicapai dengan teknologi yang dimilikinya. Ketika ditanya bagaimana teknologinya bekerja, jawabannya selalu: "rahasia dagang."

Lapis kedua: investor yang tidak memahami apa yang mereka danai. Lebih dari $400 juta dikucurkan tanpa due diligence ilmiah yang independen. Investor mempercayai karisma dan narasi, bukan bukti dan data.

Lapis ketiga: dewan penasehat yang tidak memahami domain yang mereka awasi. Theranos merekrut Henry Kissinger (mantan Menteri Luar Negeri), Jenderal James Mattis (kemudian Menteri Pertahanan), dan George Shultz (mantan Menteri Luar Negeri) ke dalam dewan. Nama-nama besar — tapi nyaris tanpa keahlian di bidang medis atau bioteknologi. Prestise disalahartikan sebagai keahlian.

Lapis keempat: mitra bisnis yang tidak memverifikasi produk. Walgreens memasang perangkat medis yang belum divalidasi di gerai-gerai ritel yang dikunjungi pasien nyata — tanpa verifikasi independen bahwa perangkat itu bekerja sesuai klaim.

Pada Januari 2022, Holmes dinyatakan bersalah atas empat dakwaan penipuan. November 2022, dia dijatuhi hukuman 11 tahun 3 bulan penjara federal. Februari 2025, pengadilan banding menolak seluruh argumen pembelaannya dan menguatkan hukuman.

$9 miliar valuasi — menjadi nol. Ratusan karyawan kehilangan pekerjaan. Pasien menderita konsekuensi medis nyata. Dan satu pelajaran yang ditulis dengan tinta yang tidak bisa dihapus: setiap lapisan — pendiri, investor, dewan, mitra — bertindak dalam skala besar sebelum memahami dalam kedalaman yang cukup.

Pola Global yang Sama

Theranos bukan anomali. Perusahaan-perusahaan paling canggih di planet ini membuat kesalahan serupa.

Google Glass ($1,5 miliar). Google menghabiskan diperkirakan $1,5 miliar untuk kacamata pintar yang tidak diinginkan siapa pun di luar kantor Google sendiri. Teknologinya impresif. Tapi Google tidak memahami sesuatu yang jauh lebih mendasar: manusia tidak mau terlihat seperti cyborg di kedai kopi. Ketidaknyamanan sosial itu bukan bug yang bisa diperbaiki dengan software update.

Segway. Sebelum diluncurkan pada 2001, Segway dikelilingi hype yang absurd. Steve Jobs menyebutnya "sebesar PC." Harga awalnya $5.000. Tapi pembuatnya tidak memahami satu hal fundamental: berjalan kaki itu gratis, tidak butuh pengisian daya, dan tidak membuat seseorang terlihat konyol. Bagi kebanyakan perjalanan pendek, berjalan kaki bukan masalah yang perlu diselesaikan.

Juicero ($120 juta). Investor-investor ternama mengumpulkan $120 juta untuk mesin pemeras jus yang awalnya dijual seharga $700, kemudian diturunkan menjadi $400 per unit, terhubung ke WiFi, dengan kemasan aluminium khusus dan QR code. Sampai seorang jurnalis Bloomberg memeras kemasan jus itu dengan tangan kosong, di depan kamera, dan mendapat hasil yang nyaris identik. $120 juta untuk mesin yang kalah dari tangan manusia.

Quibi ($1,75 miliar). Jeffrey Katzenberg — yang mengawasi pembuatan The Lion King sebagai kepala Walt Disney Studios dan memproduksi Shrek di DreamWorks — bersama Meg Whitman, mantan CEO eBay, mengumpulkan $1,75 miliar untuk layanan streaming video pendek premium. Mereka tidak memahami bahwa YouTube sudah gratis. Bahwa TikTok sudah mengisi setiap menit senggang. Quibi tutup dalam enam bulan setelah peluncuran. $1,75 miliar, setengah tahun, selesai.

Setiap cerita ini berbeda dalam detailnya. Tapi setiap cerita ini identik dalam intinya: seseorang bertindak dalam skala besar sebelum memahami dalam kedalaman yang cukup.

Harga Sistemik

Cerita-cerita individu itu dramatis, tapi harga sesungguhnya bersifat sistemik — tersebar di seluruh ekonomi, menumpuk dari tahun ke tahun, dan sebagian besar tidak terlihat.

Barry Boehm, salah satu pionir rekayasa perangkat lunak, mendokumentasikan sebuah prinsip yang sekarang dikenal sebagai "Boehm's Law": biaya memperbaiki kesalahan pemahaman setelah produk sudah jadi bisa mencapai 100 kali lebih mahal dibanding memperbaikinya di awal.3 Seratus kali. Bukan dua kali, bukan sepuluh kali — seratus kali lebih mahal.

Analoginya sederhana. Ketika merancang rumah, jika di tahap gambar desain terlihat bahwa pintunya terlalu kecil, mengubahnya butuh penghapus dan pensil baru. Jika terlihat setelah fondasi dicor dan tembok naik, dibutuhkan jackhammer dan tukang ekstra. Jika terlihat setelah rumah selesai dibangun — mungkin perlu merobohkan setengah bagian depan.

Masalahnya sama persis: pintu yang salah ukuran. Tapi harganya naik secara eksponensial tergantung kapan kesalahan itu dipahami.

Dalam skala ekonomi, angka-angkanya mengejutkan. Consortium for Information and Software Quality (CISQ) menghitung bahwa kualitas perangkat lunak yang buruk — yang sebagian besar berakar pada kesalahan pemahaman kebutuhan di awal proyek — merugikan bisnis di Amerika Serikat sebesar $2,41 triliun dalam satu tahun. Lebih besar dari seluruh GDP Indonesia.

Berbagai studi rekayasa perangkat lunak memperkirakan bahwa lebih dari separuh dari biaya pengerjaan ulang dalam proyek perangkat lunak berasal dari satu sumber: kebutuhan yang salah dipahami sejak awal.4

Standish Group, yang melacak proyek IT selama lebih dari 25 tahun, secara konsisten melaporkan: hanya 31% proyek IT yang berhasil diselesaikan sesuai jadwal, anggaran, dan spesifikasi.5 Faktor nomor satu kegagalan, konsisten selama lebih dari dua dekade: requirements yang tidak dipahami dengan benar sejak awal.

Laporan McKinsey menyebutkan bahwa sekitar 70% dari seluruh transformasi organisasi gagal. Penyebab utamanya — kurangnya pemahaman tentang apa yang sebenarnya perlu diubah, mengapa, dan bagaimana perubahan itu akan dialami oleh orang-orang di dalamnya.

Di balik setiap persentase ada manusia nyata. Programmer yang lembur berbulan-bulan membangun fitur yang ternyata tidak dibutuhkan. Manajer proyek yang kehilangan pekerjaan karena "gagal deliver" padahal yang gagal adalah pemahaman awal. Organisasi yang menghabiskan bertahun-tahun dan ratusan miliar rupiah untuk transformasi yang tidak mengubah apa-apa.


Harga Kesehatan

Dari dunia bisnis, masuk ke wilayah yang taruhannya bukan uang, tapi nyawa manusia.

Di banyak komunitas di seluruh dunia, orang tua menolak anaknya divaksinasi. Bukan karena bodoh. Bukan karena tidak sayang. Justru sebaliknya — karena sangat menyayangi anak mereka, mereka menolak.

Polanya berulang: sebuah video di grup WhatsApp atau Facebook, berdurasi belasan menit, dibuat dengan rapi — narasi yang tenang tapi mengkhawatirkan, gambar-gambar yang terlihat seperti bukti ilmiah, testimoni seseorang yang mengaku tenaga medis. Video itu dibagikan oleh seseorang yang dipercaya — tetangga, kerabat, tokoh komunitas — dan insting paling primitif dalam biologi manusia menyala: lindungi anakmu.

Orang tua yang menolak vaksin tidak gagal menyayangi anak mereka. Mereka gagal memahami apa yang sebenarnya terjadi. Tidak punya kerangka untuk mengevaluasi klaim di video itu. Tidak tahu cara membedakan korelasi dan kausalitas. Tidak tahu bahwa campak membunuh sekitar 2,6 juta orang per tahun sebelum vaksinasi massal dimulai.6

Riset yang dipublikasikan dalam jurnal psikologi dan kesehatan publik menunjukkan bahwa paparan terhadap teori konspirasi tentang vaksin secara signifikan meningkatkan penolakan vaksinasi.7 Dalam konteks epidemiologi, itu perbedaan antara herd immunity yang melindungi seluruh komunitas dan celah yang memungkinkan wabah meledak.

Konspirasi vaksin bekerja bukan karena argumennya kuat secara ilmiah — argumennya lemah, mudah dibantah oleh data yang tersedia secara gratis. Konspirasi vaksin bekerja karena mengeksploitasi sesuatu yang sangat manusiawi: keinginan untuk melindungi anak. Mengambil insting baik dan memelintirnya menjadi tindakan yang justru membahayakan.

Epidemi yang Tidak Terlihat

Ada harga kesehatan lain yang lebih senyap, lebih lambat, dan — dalam skala absolut — mungkin lebih merusak.

Pada 2025, WHO menyatakan kesepian sebagai ancaman kesehatan global yang mendesak. Data yang dirilis menunjukkan: kesepian dikaitkan dengan sekitar 871.000 kematian per tahun di seluruh dunia. Lebih banyak dari populasi beberapa kota besar. Setiap tahun, sebuah kota lenyap — bukan karena bencana alam, tapi karena kesepian.

Efek kesepian pada tubuh manusia sudah diukur dengan presisi ilmiah: kurangnya koneksi sosial setara dengan merokok 15 batang rokok per hari dalam hal dampaknya terhadap risiko kematian dini,8 menurut meta-analisis yang dipublikasikan oleh Julianne Holt-Lunstad dari Brigham Young University.9 Lebih merusak dari obesitas. Lebih berbahaya dari tidak berolahraga.

Satu dari enam orang di seluruh dunia — kira-kira 1,3 miliar manusia — mengalami kesepian yang signifikan.

Apa hubungan kesepian dengan pemahaman? Segalanya.

Manusia hidup di era yang paling terhubung secara teknologi dalam sejarah. Video call gratis ke belahan bumi lain. Ribuan "teman" di media sosial. Ratusan "like" pada setiap unggahan.

Tapi koneksi digital dan koneksi manusia adalah dua hal yang secara fundamental berbeda. Seribu followers bukan seribu teman. Mengirim emoji hati bukan hadir di sisi seseorang ketika mereka menangis. Scroll tanpa henti di media sosial — riset demi riset menunjukkan — justru memperburuk rasa sepi, bukan meredakannya.

Banyak orang yang kesepian tidak mengenali kondisi mereka sebagai kesepian. Hanya merasa "ada yang salah" — mungkin dikira kelelahan, depresi, atau sekadar bosan. Tanpa memahami apa yang sebenarnya dialami, solusi yang tepat tidak bisa dicari. Padahal yang dibutuhkan adalah duduk berhadapan dengan manusia lain dan bicara — sungguh-sungguh bicara, bukan chat.

871.000 kematian per tahun. Dan kesepian masih diperlakukan seperti keluhan individu, bukan krisis kesehatan publik.


Harga Finansial

Bayangkan skenario ini: seorang pemuda berusia 24 tahun, baru dua tahun bekerja. Gajinya UMR plus sedikit. Menabung dengan disiplin. Mimpi sederhana: DP motor baru dalam dua tahun.

Suatu malam, scroll media sosial, dia melihat temannya — teman sekolah yang dulu nilainya lebih jelek — posting foto di restoran mahal, dengan caption tentang profit ratusan persen dari crypto. Screenshot hijau portfolio di mana-mana. Testimoni tentang kekayaan instan.

Pemuda itu tidak memahami bagaimana cryptocurrency bekerja. Tidak memahami blockchain, decentralized finance, perbedaan antara Bitcoin dan ribuan altcoin. Tidak memahami leverage, liquidation, atau mengapa 95% day trader kehilangan uang.

Tapi dia memahami satu hal dengan sangat jelas: dia ingin kaya. Atau setidaknya, ingin tidak harus menghitung-hitung setiap kali mau beli nasi padang.

Data menunjukkan bahwa investor cryptocurrency dua kali lebih mungkin menjadi korban penipuan dibanding investor di instrumen konvensional, menurut riset menggunakan data survei keuangan nasional AS. Bukan karena crypto itu sendiri adalah penipuan — teknologinya nyata. Tapi karena kesenjangan antara antusiasme dan pemahaman di dunia crypto lebih lebar dari di investasi manapun, dan celah itu adalah habitat sempurna bagi penipu.

Finfluencer: Guru Palsu di Layar

Studi yang menganalisis ratusan video keuangan di media sosial menemukan: sekitar 4 dari 5 video finfluencer mengandung saran keuangan yang tidak teregulasi. Dan sekitar 3 dari 4 video tersebut menyajikan skenario keuntungan yang tidak realistis.

"Cara dapat Rp 100 juta sebulan dari saham." "Rahasia passive income tanpa kerja." "Trading forex modal kecil, untung berlipat dalam seminggu."

Tanpa pemahaman yang cukup tentang bagaimana keuangan bekerja, satu logika sederhana tidak terlihat: jika seseorang benar-benar bisa menghasilkan uang sebanyak itu semudah itu, mengapa repot-repot menjual kursus murah di media sosial?

FTC melaporkan total kerugian akibat penipuan keuangan di Amerika Serikat mencapai $12,5 miliar pada tahun 2024. Dan sebagian besar penipuan investasi kini bermula dari media sosial, menurut data FTC.10 Di Indonesia dan banyak negara berkembang lain, polanya serupa — dari berbagai skema investasi bodong yang menjanjikan return tidak masuk akal, sampai "robot trading" yang katanya bisa menghasilkan profit otomatis.

Harga yang dibayar bukan sekadar uang yang hilang. Ada pasangan yang bercerai karena tabungan bersama lenyap. Ada orang tua yang kehilangan dana pensiun yang dikumpulkan selama puluhan tahun. Ada mahasiswa yang terjerat pinjaman karena modal investasinya hangus.

Harga ketidakpahaman finansial tidak pernah hanya finansial.


Harga Peradaban

Siklus Ibnu Khaldun

Pada abad ke-14, jauh sebelum ada sosiologi sebagai disiplin ilmu, seorang pemikir dari Tunisia bernama Ibnu Khaldun menulis Muqaddimah — karya yang banyak dianggap sebagai buku sosiologi dan filsafat sejarah pertama di dunia. Arnold Toynbee, sejarawan Inggris, menyebutnya "karya terbesar dari jenisnya yang pernah diciptakan oleh pikiran manapun, di waktu dan tempat manapun."11

Di dalam Muqaddimah, Ibnu Khaldun mendeskripsikan sebuah siklus yang terjadi berulang kali dalam sejarah peradaban manusia.

Siklus itu dimulai dengan apa yang ia sebut asabiyyah — rasa solidaritas dan kohesi sosial. Kelompok dengan asabiyyah kuat membangun peradaban. Mereka inovatif karena survival menuntutnya. Berpikir mandiri karena tidak ada kemewahan untuk meniru tanpa memahami. Setiap keputusan punya konsekuensi langsung.

Peradaban itu tumbuh. Mencapai puncak. Menjadi makmur.

Tapi kemudian, secara perlahan dan hampir tak terlihat, sesuatu berubah.

Generasi berikutnya, yang lahir dalam kemakmuran, tidak lagi merasakan urgensi untuk berpikir mandiri. Jawaban-jawaban sudah tersedia — tinggal diikuti. Mereka mulai meniru alih-alih memahami. Mengikuti tradisi bukan karena memahami kebijaksanaan di baliknya, tapi karena "memang begitu caranya."

Ibnu Khaldun mendeskripsikan ini sebagai perpindahan dari ijtihad — pemikiran independen, penalaran kritis — ke taqlid — peniruan buta, kepatuhan tanpa pemahaman.

Di titik perpindahan itulah benih kehancuran ditanam. Peradaban runtuh bukan karena musuh luar yang lebih kuat, tapi karena dari dalam, kemampuan untuk memahami secara mandiri telah digantikan oleh kebiasaan meniru tanpa bertanya.

Muhammad Abduh dan Diagnosis Stagnasi

Pada penghujung abad ke-19, seorang ulama dan pemikir Mesir bernama Muhammad Abduh mengajukan diagnosis yang bergema sampai hari ini: mengapa peradaban Islam — yang selama berabad-abad menjadi pusat ilmu pengetahuan dan inovasi dunia — mengalami stagnasi?13

Jawaban Abduh: keberhasilan luar biasa umat Islam awal — dalam sains, matematika, filsafat, kedokteran — bukan semata-mata karena iman, tapi karena cara beriman.

Generasi awal menggabungkan dua hal yang sering dianggap bertentangan: kesetiaan mendalam pada prinsip-prinsip Al-Quran dan semangat penyelidikan bebas yang tidak takut bertanya. Mereka membaca ayat-ayat yang menyuruh mengamati alam dan merenungi penciptaan — dan mereka benar-benar melakukannya. Bukan secara metaforis. Secara literal.

Hasilnya? Peradaban yang melahirkan aljabar (dari al-jabr, karya al-Khawarizmi yang namanya sendiri menjadi asal kata "algoritma"). Yang membangun rumah sakit modern pertama. Yang menemukan prinsip-prinsip optik yang mendasari cara kerja kamera. Yang mengembangkan metode ilmiah sebelum Francis Bacon.

Tapi kemudian terjadi pergeseran. Taqlid menggantikan ijtihad. Orang-orang berhenti bertanya "mengapa" dan mulai hanya bertanya "siapa yang bilang." Otoritas nama menggantikan kekuatan bukti. Menghafal menggantikan memahami.

Stagnasi datang bukan dengan dentuman yang dramatis, tapi dengan kesunyian — kesunyian dari pertanyaan-pertanyaan yang tidak lagi diajukan.

Cermin Modern

Pertanyaan yang jujur: apakah dunia hari ini sedang di fase ijtihad atau taqlid?

40% orang di seluruh dunia kini secara aktif menghindari berita, menurut Reuters Institute Digital News Report. Empat dari sepuluh orang memilih untuk tidak tahu. Bukan karena terlalu sibuk — ada waktu berjam-jam untuk media sosial. Tapi karena kewalahan oleh banjir informasi, bingung membedakan fakta dan opini, atau sudah kehilangan kepercayaan pada semua sumber informasi.

Ini adalah taqlid dalam bentuk modern: penyerahan. Alih-alih berusaha memahami apa yang terjadi di dunia, jutaan orang menyerah dan memilih ikut arus — entah arus opini teman, arus algoritma, atau arus apatis.

Kepercayaan terhadap institusi ilmiah menurun di banyak negara. Survei Pew Research Center dan Wellcome Global Monitor mencatat tren penurunan yang konsisten dalam beberapa tahun terakhir. Di era ketika manusia hidup lebih lama, lebih sehat, dan lebih aman berkat sains — justru semakin banyak yang meragukan sains.

Ini karena gagal memahami bagaimana sains bekerja. Sains dilihat sebagai kumpulan klaim yang harus dipercaya atau ditolak — seperti agama yang berbeda. Padahal sains adalah proses, bukan produk. Proses yang terus memperbaiki dirinya sendiri, yang dengan sengaja mencari kesalahannya sendiri. Dan ketika satu klaim ilmiah berubah — yang memang seharusnya terjadi — itu dilihat sebagai bukti bahwa "sains tidak bisa dipercaya," padahal justru itulah bukti bahwa sains bekerja.

Misinformasi yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan menambahkan dimensi baru. Video deepfake, audio sintetis, dan teks yang sepenuhnya fabrikasi bisa diproduksi dalam hitungan detik — dengan kualitas yang semakin tidak bisa dibedakan dari yang asli.

Kemampuan manusia untuk memproduksi kebohongan yang meyakinkan sedang meningkat secara eksponensial. Kemampuan manusia rata-rata untuk memahami dan menyaring informasi? Masih stagnan.


Satu Pola

Gelombang startup yang membakar ratusan juta dolar karena tidak memahami bahwa masalah yang terlihat dari luar bukan masalah yang dirasakan pasar. Theranos yang runtuh karena berlapis-lapis ketidakpahaman — pendiri, investor, dewan, mitra — semuanya bertindak sebelum memahami. Google Glass, Segway, Juicero, Quibi — perusahaan dengan sumber daya nyaris tak terbatas yang jatuh karena alasan yang persis sama.

Orang tua yang menolak vaksin anaknya — bukan karena tidak sayang, tapi karena tidak memahami. 871.000 orang yang mati setiap tahun karena kesepian — bukan karena tidak ada teknologi untuk terhubung, tapi karena tidak dipahami bahwa koneksi manusiawi berbeda dari koneksi digital.

Peradaban yang naik karena ijtihad dan jatuh karena taqlid.

Semuanya mengandung kegagalan yang sama.

Perlu dicatat: tidak ada kegagalan bisnis, kegagalan kebijakan, atau kegagalan personal yang disebabkan oleh satu faktor saja. Startup gagal karena kombinasi timing, persaingan, makroekonomi, dan puluhan variabel lain. Tapi di antara semua faktor itu, satu pola muncul berulang dengan konsistensi yang sulit diabaikan: bertindak sebelum memahami, dan membayar harganya kemudian.

Polanya konsisten. Yang berubah hanya skalanya:

Pertama, ada sesuatu yang perlu dipahami. Kedua, pemahaman itu dilewati — karena terburu-buru, terlalu percaya diri, tekanan dari luar, atau memang tidak tahu bahwa ada yang perlu dipahami. Ketiga, tindakan diambil berdasarkan pemahaman yang tidak memadai. Keempat, harga dibayar — hampir selalu lebih mahal dari waktu yang dibutuhkan untuk memahami di awal.

Prinsip Kuno yang Masih Berlaku

Empat belas abad yang lalu, jauh sebelum CB Insights, sebelum Silicon Valley — Imam Bukhari meletakkan sebuah prinsip di bagian awal karyanya yang monumental, Sahih al-Bukhari.

Prinsipnya: Al-'ilmu qabla al-qawli wa'l-'amal.

Ilmu sebelum perkataan dan perbuatan.

Pahami dulu, baru bicara dan bertindak.

Imam Bukhari menempatkan seluruh Kitab Ilmu di awal karyanya — sebelum kitab-kitab tentang shalat, puasa, zakat, dan haji.12 Sebelum semua ibadah. Urutannya bukan kebetulan editorial. Ini adalah pernyataan arsitektural: pemahaman adalah fondasi dari segala sesuatu yang datang sesudahnya.

Prinsip ini berlaku jauh melampaui konteks keagamaannya. Sama benarnya di laboratorium biokimia dan di ruang rapat direksi. Di dapur restoran bintang Michelin dan di garasi startup. Di kantor dokter dan di kelas sekolah.

Bukti Bahwa Pemahaman Membayar

SpaceX adalah contoh yang nyaris sempurna karena beroperasi di industri yang paling tidak toleran terhadap kesalahan — roket yang gagal tidak bisa di-pivot, ia meledak.

Ketika Elon Musk memutuskan ingin membuat roket yang bisa dipakai ulang, dia tidak langsung membangun pabrik. Dia menghabiskan bertahun-tahun memahami fisika roket dari prinsip pertama. Bukan dari presentasi PowerPoint konsultan. Dari fisika dasar. Apa yang membuat roket terbang? Berapa biaya material sebenarnya? Di mana kesenjangan antara biaya minimum dan harga jual aktual?

Pemahaman mendalam itu membuahkan wawasan yang mengubah segalanya: biaya material sebuah roket ternyata hanya sekitar 2% dari harga jualnya. Sisanya — 98% — adalah gabungan inefisiensi produksi, overhead birokrasi, dan kebiasaan industri yang diterima tanpa pernah dipertanyakan.

Taqlid dalam industri aerospace.

Pemahaman ini menjadi fondasi dari pendekatan SpaceX yang akhirnya menurunkan biaya peluncuran hingga 10 kali lipat. SpaceX lebih cepat dari Boeing atau Lockheed Martin justru karena mendalami tahap pemahaman sampai ke level paling fundamental. Pemahaman bukan penghambat kecepatan. Pemahaman adalah akselerator kecepatan.

Jeff Bezos menerapkan prinsip yang sama di Amazon. Satu aturan untuk setiap rapat pengambilan keputusan penting: 30 menit pertama dihabiskan untuk membaca dalam diam. Tidak ada presentasi PowerPoint. Tidak ada yang bicara.

Sebelum rapat, seseorang menyiapkan "memo naratif" — dokumen tertulis, biasanya enam halaman, yang menjelaskan ide, konteks, data, analisis, dan argumen secara mendalam dalam bentuk prosa naratif. Bukan bullet point. Kalimat-kalimat utuh yang menuntut penulis untuk benar-benar berpikir jernih.

Memo naratif memaksa penulis untuk benar-benar memahami apa yang diusulkan, karena pemikiran yang belum matang tidak bisa disembunyikan di balik bullet point dan transisi slide. Dan 30 menit diam itu memastikan setiap orang di ruangan benar-benar memahami apa yang akan mereka diskusikan.

Amazon menjadi salah satu perusahaan paling konsisten dalam pengambilan keputusan strategis. Bukan meskipun "membuang" 30 menit setiap rapat untuk memahami, tapi justru karena investasi 30 menit itu menghemat ribuan jam eksekusi yang salah arah.


Harga Sebenarnya

Satu benang merah muncul di setiap cerita, tidak pernah gagal:

Harga untuk tidak memahami selalu lebih mahal dari waktu yang dibutuhkan untuk memahami.

Selalu.

Ratusan juta dolar yang dibakar gelombang startup warung? Jauh lebih mahal dari riset mendalam — tinggal di antara pemilik warung, mengamati rutinitas mereka, memahami apa yang benar-benar dibutuhkan versus apa yang terlihat seperti kebutuhan dari jauh.

$1,75 miliar yang Quibi buang dalam enam bulan? Jauh lebih mahal dari survei sederhana yang menanyakan: "Apakah mau bayar $5 per bulan untuk video pendek ketika YouTube gratis?"

871.000 nyawa yang hilang setiap tahun karena kesepian? Jauh lebih mahal dari investasi untuk memahami bahwa koneksi manusia tidak bisa digantikan oleh koneksi digital.

Pemahaman bukan lawan dari kecepatan. Pemahaman adalah prasyarat untuk kecepatan yang bermakna.

SpaceX tidak lambat karena menghabiskan bertahun-tahun memahami fisika roket dari prinsip pertama. Justru lebih cepat dari seluruh industri aerospace yang sudah ada selama setengah abad. Amazon tidak lambat karena "membuang" 30 menit dalam diam. Justru lebih tajam dalam setiap keputusan strategis.

Kecepatan tanpa pemahaman adalah kecepatan menuju tebing. Bergerak cepat — tapi ke arah yang salah. Dan semakin cepat ke arah yang salah, semakin jauh dari tujuan, semakin keras jatuhnya.

Informasi bukan pemahaman. Data bukan kebijaksanaan. Akses bukan penguasaan. Membaca judul berita bukan memahami isu. Menonton video TikTok 60 detik tentang geopolitik bukan memahami geopolitik.

Imam Bukhari sudah mengkristalisasi kebenaran ini empat belas abad yang lalu. Ibnu Khaldun sudah mendokumentasikan polanya enam abad yang lalu. Muhammad Abduh sudah memperingatkan konsekuensinya satu setengah abad yang lalu.

Al-'ilmu qabla al-qawli wa'l-'amal.

Ilmu sebelum perkataan dan perbuatan.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah perlu memahami. Pertanyaannya: bagaimana? Bagaimana sebenarnya pemahaman bekerja? Apa yang terjadi di otak ketika memahami sesuatu? Dan yang paling penting: bisakah kemampuan memahami itu dipelajari, dilatih, ditajamkan?


Harga untuk mengabaikan pemahaman sudah terlalu tinggi, terlalu lama, bagi terlalu banyak orang.

Pahami.