← Pahami

Bab 1

Ilusi

Mengapa orang paling pintar di ruangan sering paling salah

Sebuah pertanyaan sederhana: dari skala 1 sampai 7, seberapa paham seseorang tentang cara kerja toilet?

Bukan toilet canggih Jepang. Toilet biasa. Yang dipakai setiap hari. Tekan tombol, air turun, kotoran hilang, air naik lagi. Kebanyakan orang menjawab sekitar 4 atau 5. Cukup paham.

Tapi ketika diminta menjelaskan secara detail — apa yang terjadi saat tombol flush ditekan, bagaimana air bisa naik kembali, mengapa air berhenti di ketinggian tertentu — kepercayaan diri itu runtuh dalam hitungan detik.

Pada tahun 2002, dua psikolog dari Yale — Leonid Rozenblit dan Frank Keil — menguji fenomena ini secara sistematis. Mereka meminta sekelompok mahasiswa menilai pemahaman mereka tentang benda-benda sehari-hari: toilet, ritsleting, kunci pintu, speedometer. Rata-rata penilaian awal: sekitar 4 dari 7.1

Lalu mereka diminta menulis penjelasan detail. Langkah demi langkah. Mekanisme, bukan gambaran umum.

Setelah mencoba — dan gagal — menjelaskan, penilaian ulang turun drastis — sering hampir satu poin penuh. Bukan karena ada informasi baru yang membingungkan. Mereka hanya diminta menjelaskan sesuatu yang mereka pikir mereka pahami — dan menyadari bahwa pemahaman itu tidak pernah ada.

Rozenblit dan Keil menamai fenomena ini the Illusion of Explanatory Depth (IOED) — Ilusi Kedalaman Penjelasan.

Dan ini bukan tentang toilet. Ini tentang hampir segala hal yang manusia pikir dipahaminya.


Ilusi Kedalaman Penjelasan

Inti dari IOED terletak pada satu kesalahan yang terjadi secara otomatis di otak: mengganti pertanyaan yang sulit dengan pertanyaan yang mudah, tanpa menyadarinya.

Pertanyaan yang seharusnya dijawab: "Bisakah ini dijelaskan secara detail?"

Pertanyaan yang sebenarnya dijawab: "Apakah ini terasa familiar?"

Dua pertanyaan yang sangat berbeda. Familiar bukan berarti paham. Seseorang bisa mengenali wajah ibunya di antara ribuan orang, tapi tidak bisa menggambar wajah itu secara akurat dari ingatan. Mengenali dan memahami adalah dua operasi mental yang berbeda. Tapi otak manusia mencampuradukkan keduanya dengan sangat mulus.

Contoh konkretnya: berita tentang inflasi muncul setiap hari. Cuitan tentang kebijakan moneter bertebaran di media sosial. Diskusi tentang suku bunga terdengar di warung kopi. Semua paparan itu menciptakan rasa familiar yang kuat. Dan rasa familiar itu, secara diam-diam, berubah menjadi rasa pemahaman.

Padahal mungkin perbedaan antara kebijakan moneter dan kebijakan fiskal tidak bisa dijelaskan jika diminta saat ini juga.

Yang lebih mengkhawatirkan: ilusi ini menguat seiring bertambahnya informasi yang dikonsumsi. Semakin banyak artikel yang dibaca, podcast yang didengar, video yang ditonton — semakin kuat rasa familiar, dan semakin besar ilusinya. Penelitian juga menunjukkan bahwa IOED memburuk saat beban kognitif tinggi — ketika otak sudah sibuk dengan multitasking, kelelahan, atau stres.

Artinya, kondisi yang paling umum dalam kehidupan modern — kelelahan informasi — justru kondisi yang paling memperkuat ilusi ini.


IOED tidak terbatas pada pengetahuan teknis. Eksperimen lanjutan menemukan ilusi yang sama di berbagai domain.

Politik. Pada 2013, Philip Fernbach dari University of Colorado menemukan bahwa orang yang diminta menjelaskan bagaimana suatu kebijakan bekerja — bukan mengapa mereka mendukungnya — menjadi lebih moderat.2 Bukan karena berubah pikiran. Tapi karena menyadari bahwa keyakinan mereka berdiri di atas fondasi yang jauh lebih tipis dari perkiraan.

Teknologi. Smartphone digunakan setiap hari. Tapi bagaimana sinyal 4G berubah menjadi video di layar? Bagaimana algoritma merekomendasikan konten? Bagaimana enkripsi menjaga pesan tetap privat? Manusia hidup dikelilingi teknologi yang dipakai setiap detik tapi tidak dipahami sama sekali.

Kesehatan. Obat sakit kepala diminum dan efeknya dirasakan. Tapi mekanisme parasetamol di tingkat sel? Mengapa dosis tertentu efektif dan dosis lain berbahaya? Yang familiar adalah hasilnya, bukan prosesnya. Dan keduanya dianggap sama.

Yang membuat IOED berbahaya bukan fakta bahwa pemahaman itu dangkal — itu wajar, tidak ada manusia yang bisa memahami segala hal. Yang berbahaya adalah ketidaktahuan tentang kedangkalan itu. Seperti berjalan di atas es tipis sambil merasa menginjak beton.


Dunning-Kruger — Kutukan Ganda

Pada 1999, Justin Kruger dan David Dunning dari Cornell University menerbitkan makalah dengan judul yang sudah menjadi sindiran legendaris: "Unskilled and Unaware of It."3 Tidak terampil, dan tidak sadar akan hal itu.

Eksperimennya sederhana. Mahasiswa diuji dalam tiga domain: tata bahasa, penalaran logis, dan humor. Setelah mengerjakan tes, setiap peserta memperkirakan peringkat mereka relatif terhadap peserta lain.

Hasilnya menghantam. Peserta yang skornya berada di persentil ke-12 — artinya 88% peserta lain lebih baik — memperkirakan diri mereka berada di persentil ke-62. Bukan sedikit meleset. Meleset lima puluh poin persentil. Di papan bawah, tapi merasa di atas rata-rata.

Sementara peserta yang benar-benar mahir justru sedikit merendahkan diri, memperkirakan posisi mereka lebih rendah dari kenyataan.

Dunning dan Kruger menyebutnya kutukan ganda.

Kutukan pertama: tidak kompeten dalam suatu hal. Itu sendiri sudah merugikan.

Kutukan kedua — yang lebih kejam: ketidakmampuan itu sekaligus merenggut kemampuan untuk menyadari bahwa ada ketidakmampuan. Untuk mengenali jawaban yang bagus, dibutuhkan pengetahuan yang sama dengan yang dibutuhkan untuk menghasilkan jawaban yang bagus.

Sebuah analogi: dalam pertandingan bulu tangkis, pemain berpengalaman bisa melihat kesalahan halus — footwork yang kurang tepat, timing pukulan yang terlambat sepersekian detik. Tapi penonton yang baru pertama kali menonton? Semua pemain terlihat sama hebatnya. Bahkan tidak tahu apa yang harus diperhatikan.

Itulah kutukan ganda. Kompetensi dibutuhkan untuk mengenali inkompetensi. Tanpa kompetensi, alat untuk mengukur kekurangan sendiri tidak ada.


Perlu dicatat: efek Dunning-Kruger tidak luput dari kritik. Beberapa peneliti mempertanyakan apakah sebagian polanya bisa dijelaskan oleh regression to the mean — artefak statistik di mana orang di persentil bawah hanya bisa menebak ke atas, dan sebaliknya.

Tapi ketika efek statistik itu dikontrol, kecenderungan orang berkemampuan rendah untuk melebih-lebihkan dirinya tetap ada — meskipun lebih kecil dari studi asli. Debatnya bukan apakah efek ini ada. Debatnya seberapa besar.

Dan kenyataan praktisnya tetap sama: orang yang paling tidak kompeten dalam suatu domain cenderung paling tidak akurat dalam menilai kompetensi mereka sendiri.


Bias Blind Spot — Bintik Buta Kognitif

Setiap mobil punya blind spot — area di samping kendaraan yang tidak terlihat di kaca spion. Sopir berpengalaman tahu blind spot itu ada, dan belajar menengok sebelum berpindah lajur.

Pikiran manusia juga punya blind spot. Bedanya, blind spot kognitif ini jauh lebih sulit diatasi — karena semakin yakin seseorang bisa melihatnya, semakin besar kemungkinan dia tidak bisa.

Pada 2002, Emily Pronin dari Princeton University menemukan apa yang disebutnya bias blind spot: kecenderungan manusia untuk mengenali bias pada orang lain tetapi gagal mengenalinya pada diri sendiri.

Ukuran efeknya luar biasa — salah satu yang terbesar yang pernah diukur dalam psikologi sosial.4 Fenomena ini begitu kuat sehingga nyaris universal.

Eksperimennya sederhana. Peserta diberi daftar bias kognitif — bias konfirmasi, efek halo, bias ketersediaan. Mereka menilai seberapa rentan orang pada umumnya dan seberapa rentan mereka sendiri.

Hasilnya konsisten: orang menilai orang lain jauh lebih rentan. Mereka mengakui bias itu ada. Mengakui manusia pada umumnya rentan. Tapi mengecualikan diri mereka sendiri.

Bias blind spot juga telah direplikasi lintas budaya — termasuk di Amerika Serikat, Hong Kong, dan Brasil, negara-negara dengan budaya yang sangat berbeda.4 Ini bukan artefak budaya Barat. Ini tampaknya fitur universal dari cara kerja pikiran manusia.


Ada satu temuan yang jarang dibicarakan di luar literatur akademis. Bias blind spot tidak hanya memengaruhi individu — ia juga memengaruhi kelompok.

Ketika seseorang merasa memiliki akses ke kebenaran yang tidak dimiliki orang lain — merasa bisa melihat apa yang "orang kebanyakan" tidak bisa lihat — itu adalah bias blind spot dalam skala besar. Mereka percaya orang lain rentan terhadap manipulasi, tapi mengecualikan diri sendiri.

Penelitian menemukan bahwa orang-orang dengan keyakinan semacam ini, ketika berada di posisi minoritas (88% dari waktu), tetap percaya bahwa mereka di posisi mayoritas 93% dari waktu.5 Bukan hanya salah tentang fakta — juga salah tentang seberapa banyak orang yang setuju dengan mereka.


Ilusi Kebenaran — Mengapa Pengulangan Menciptakan Rasa Benar

Sebuah eksperimen klasik dengan prosedur sangat sederhana: peserta diberi serangkaian pernyataan — campuran benar dan salah. Beberapa hanya muncul sekali. Beberapa diulang beberapa kali. Di akhir, peserta menilai kebenaran setiap pernyataan.

Hasilnya: pernyataan yang diulang dinilai lebih benar — terlepas dari apakah pernyataan itu memang benar atau tidak.

Fenomena ini disebut illusory truth effect. Mekanismenya terkait dengan processing fluency: ketika otak sudah pernah menemui informasi sebelumnya, informasi itu diproses lebih mudah saat ditemui lagi. Terasa lebih lancar. Lebih mulus. Dan otak menerjemahkan kemudahan pemrosesan itu sebagai sinyal kebenaran.

Logikanya primitif tapi bisa dipahami: hal-hal yang sering ditemui cenderung nyata — matahari terbit setiap hari, dan matahari memang terbit. Otak menggeneralisasi heuristik ini ke semua informasi, termasuk informasi yang sering ditemui hanya karena seseorang sengaja mengulanginya.

Bagian yang benar-benar mengkhawatirkan datang dari penelitian Lisa Fazio (2015).6 Timnya menguji apakah pengetahuan yang sudah ada bisa melindungi dari efek ini. Jawabannya: pengetahuan membantu, tapi tidak melindungi sepenuhnya. Bahkan pernyataan yang bertentangan dengan pengetahuan yang sudah dimiliki tetap dinilai sedikit lebih benar setelah diulang.

Artinya: bahkan ketika seseorang tahu sesuatu itu salah, mendengarnya berulang kali tetap menggeser perasaan sedikit ke arah "mungkin benar."


Satu detail penting: polanya logaritmik. Dampak terbesar datang dari pengulangan pertama — dari belum pernah mendengar ke sudah pernah mendengar. Pengulangan kedua masih berdampak, tapi lebih kecil. Ketiga lebih kecil lagi.

Implikasi praktisnya serius. Dalam konteks disinformasi, seseorang tidak perlu dibombardir ribuan kali. Cukup terpapar sekali, dan benihnya sudah ditanam. Klaim yang salah di grup WhatsApp dibaca sekilas. Lalu muncul lagi di Facebook dalam format berbeda. Lalu di TikTok sebagai video. Setiap paparan menggeser perasaan kebenaran — tanpa disadari.

Propaganda tidak bekerja melalui argumen. Propaganda bekerja melalui pengulangan.

Beberapa contoh yang sudah mengakar: "Manusia hanya menggunakan 10% otaknya" — salah. "Einstein dianggap bodoh di sekolah" — sangat menyederhanakan. "Great Wall of China bisa dilihat dari luar angkasa" — salah. Tapi semuanya terasa benar, karena sudah diulang begitu sering.


Mengapa Pendidikan Saja Tidak Cukup

Pendidikan memiliki banyak manfaat nyata — meningkatkan literasi, membuka peluang ekonomi, memperluas wawasan. Tidak ada yang meragukan itu.

Tapi ada pertanyaan yang lebih spesifik: apakah pendidikan melindungi dari ilusi-ilusi kognitif yang telah dibahas di atas? Intuisi umum mengatakan ya — beri manusia lebih banyak pendidikan, lebih banyak pelatihan berpikir kritis, dan mereka akan lebih tahan terhadap ilusi.

Pada 2024, Sultan dan timnya menerbitkan meta-analisis komprehensif tentang hubungan antara pendidikan dan kemampuan membedakan informasi benar dari misinformasi.7 Meta-analisis adalah studi dari studi-studi — mengumpulkan hasil banyak penelitian dan menganalisisnya secara statistik.

Temuannya mengejutkan: pendidikan tidak memiliki dampak signifikan terhadap kemampuan membedakan informasi benar dari misinformasi. Bukan dampak kecil. Bukan dampak sedang. Tidak signifikan.

Seseorang dengan gelar master tidak secara signifikan lebih baik dalam membedakan berita benar dari berita palsu dibandingkan seseorang yang hanya lulus SMA.

Sekali lagi: ini bukan argumen anti-pendidikan. Ini temuan bahwa pendidikan saja — tanpa latihan spesifik untuk mengenali bias dan ilusi kognitif — tidak cukup. Gelar tidak membuat otak kebal terhadap bias.


Dan ada temuan yang lebih paradoksal lagi. Kemampuan berpikir analitis — yang sering dianggap inti dari pendidikan berkualitas — memang membantu mengevaluasi klaim faktual. Tapi kemampuan analitis yang sama juga memperkuat bias partisan.

Fenomena ini disebut motivated reflection: orang yang lebih pandai berpikir analitis juga lebih pandai menemukan argumen yang mendukung posisi yang sudah diyakini sebelumnya.8

Sebuah ilustrasi: dua orang mengevaluasi klaim tentang perubahan iklim. Orang pertama, kemampuan analitis rendah, mungkin mempercayai atau menolak berdasarkan perasaan — prosesnya sederhana, tapi juga mudah dikoreksi. Orang kedua, kemampuan analitis tinggi, jika sudah skeptis, akan menggunakan ketajaman analitisnya untuk menemukan kelemahan setiap studi pendukung, mengkonstruksi kontra-argumen yang canggih, dan merasa lebih yakin pada posisinya setelah melihat bukti yang seharusnya mengubah pikirannya.

Orang kedua bukan berpikir lebih buruk. Berpikir lebih tajam — tapi ketajaman itu digunakan untuk mempertahankan posisi, bukan mencari kebenaran. Seperti pedang tajam di tangan orang yang salah arah: semakin tajam, semakin jauh tersesat.

Dan satu temuan lagi yang melawan stereotip: orang dewasa yang lebih tua ternyata menunjukkan kemampuan diskriminasi yang lebih baik dibanding yang lebih muda dalam membedakan berita benar dari palsu. Pengalaman hidup yang panjang memberikan kerangka referensi yang lebih kaya — bukan karena lebih pintar, tapi karena sudah cukup sering tertipu untuk belajar berhati-hati.


Benang Merah

Empat fenomena telah dibahas di sepanjang tulisan ini. Masing-masing berbeda, tapi semuanya adalah manifestasi dari satu masalah yang sama:

Manusia merasa memahami, padahal tidak. Dan tidak tahu bahwa tidak memahami.

IOED: rasa familiar berubah menjadi rasa pemahaman yang palsu.

Dunning-Kruger: semakin dangkal pemahaman, semakin dalam perasaan pemahaman.

Bias blind spot: kelemahan berpikir orang lain terlihat jelas, kelemahan sendiri nyaris tak terdeteksi.

Ilusi kebenaran: pengulangan menciptakan rasa kebenaran, bahkan untuk hal-hal yang diketahui salah.

Pendidikan: bukan perisai. Gelar dan kecerdasan kadang justru memperkuat ilusi.

Setiap fenomena ini adalah variasi dari tema yang sama: ada jurang antara apa yang dirasakan tentang pemahaman dan apa yang sebenarnya dipahami. Dan jurang itu tidak terlihat, tidak terasa, dan tidak terdeteksi oleh sistem internal otak. Dibutuhkan alat eksternal — eksperimen, umpan balik, refleksi yang disiplin — untuk melihatnya.


Tujuan tulisan ini bukan membuat siapa pun merasa bodoh.

Kalau setelah membaca semua ini muncul rasa tidak nyaman, sedikit meragukan diri sendiri, sedikit kurang yakin — itu bukan kelemahan. Itu persis respons yang tepat. Ketidaknyamanan itu adalah tanda bahwa ilusi mulai retak.

Tujuannya adalah menciptakan satu kebiasaan: berhenti sejenak — sebelum menyatakan pendapat yang kuat, sebelum berdebat dengan yakin, sebelum menilai orang lain — dan bertanya:

Apakah ini benar-benar dipahami? Atau hanya terasa dipahami?

Pertanyaan itu sederhana. Tapi efeknya transformatif.


Menariknya, para pemikir besar dalam sejarah — yang terpisah ribuan tahun dan ribuan kilometer — sampai pada observasi yang sama.

Sokrates, 2.400 tahun lalu, mengklaim bahwa satu-satunya yang membuatnya bijak adalah bahwa dia tahu bahwa dia tidak tahu. Konfusius mengatakan: "Mengetahui bahwa tidak tahu ketika memang tidak tahu — itulah pengetahuan sejati." Lao Tzu menulis: "Mengetahui bahwa tidak tahu adalah yang tertinggi. Tidak mengetahui bahwa tidak tahu adalah penyakit."

Dan peringatan ini bukan hanya datang dari pengamatan manusia.

Al-Quran, dalam Surah Al-Baqarah, menggambarkan orang-orang yang ketika dikatakan "jangan berbuat kerusakan di bumi," menjawab dengan yakin: "Kami hanya berbuat kebaikan." Mereka tidak merasa sedang berbohong. Keyakinan itu tulus — dan justru itulah yang membuatnya begitu sulit dikenali.

Observasi manusia dan petunjuk wahyu mengarah ke titik yang sama: langkah pertama menuju pemahaman sejati adalah menyadari betapa sedikitnya yang dipahami.


Ilusi harus dihancurkan dulu. Baru bisa mulai membangun.

Dan kabar baiknya: ilusi bisa dihancurkan. Bukan dengan mudah. Bukan sekali jalan. Tapi bisa. Fakta bahwa tulisan ini dibaca sampai di sini — dan mungkin mulai menimbulkan retakan dalam keyakinan — adalah bukti bahwa otak manusia, meskipun penuh ilusi, juga punya kapasitas luar biasa untuk mengoreksi dirinya sendiri.

Bukan menjadi manusia yang berbeda. Hanya menjadi manusia yang sadar bahwa otaknya bisa menipu dirinya sendiri — dan bersedia mengecek ulang.

Pahami.